• Rabu, 7 Desember 2022

Nyaris Rp 20 Ribu Per Liter, Harga Bensin di Amerika Tertinggi Sepanjang Masa!

- Selasa, 14 Juni 2022 | 09:46 WIB
Seorang pelanggan melihat tulisan tangan yang dipasang di pompa bensin, menunjukkan bahwa pom bensin kehabisan bahan bakar. Rabu, 12 Mei 2021, di Charlotte, NC. (CNBC) (AP / Chris Carlson)
Seorang pelanggan melihat tulisan tangan yang dipasang di pompa bensin, menunjukkan bahwa pom bensin kehabisan bahan bakar. Rabu, 12 Mei 2021, di Charlotte, NC. (CNBC) (AP / Chris Carlson)

Apabila harga bensin terus tinggi, dikhawatirkan konsumsi akan berkurang. Akibatnya, harga minyak tentu terpengaruh.

"Saat ini permintaan memang masih kuat. Namun jika harga bensin tidak kunjung stabil, maka konsumen tentu akan mengurangi konsumsi," kata Phil Flynn, Analis Price Futures, seperti dikutip dari Reuters.

Selain AS, konsumsi di China juga dikhawatirkan bakal berkurang. Setelah euforia dicabutnya karantina wilayah (lockdown) di Shanghai, ternyata kabar gembira itu tidak bertahan lama. Distrik Minhang di Shanghai kembali memberlakukan lockdown akibat kenaikan kasus positif Covid-19.

Baca Juga: Harga Emas Kembali Tak Berdaya Digoyang Dolar AS

Di ibukota Beijing, situasi juga mencekam. Chaoyang, distrik paling padat di Beijing, menggelar tes massal untuk memisahkan populasi yang sakit dari populasi yang sehat.

"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di China. Kondisinya sangat tidak pasti," lanjut Flynn.

Pemerintahan Presiden Xi Jinping memang tidak main-main soal Covid-19. China masih menganut kebijakan tanpa toleransi (zero tolerance) terhadap Covid-19. Begitu ada kluster penularan, langsung lockdown.

"Iklim usaha di China belum kondusif meski sejumlah kota sudah dibuka kembali, karena kebijakan zero Covid-19. Setiap pagi, masyarakat tidak tahu apakah lockdown kembali berlaku," tegas Christophe Lauras, Presiden Kamar Dagang Prancis untuk China, sebagaimana diwartakan Reuters.

Masalahnya, China adalah konsumen minyak terbesar dunia setelah AS. Lockdown tentu akan membuat aktivitas dan mobilitas warga Negeri Panda berkurang, sehingga menurunkan permintaan energi. (***)

Halaman:

Editor: Yinthze Gunde

Sumber: CNBC Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Belanja di Thailand Kini Bisa Pakai Rupiah

Sabtu, 3 September 2022 | 17:42 WIB

Bappebti : 383 Aset Kripto Sah Diperdagangkan

Rabu, 17 Agustus 2022 | 19:13 WIB
X