• Minggu, 25 September 2022

Harga Emas Kembali Tak Berdaya Digoyang Dolar AS

- Rabu, 8 Juni 2022 | 16:58 WIB
Harga emas semakin tak berdaya akibat apresiasi dolar America Serikat (AS). (CNBC Indonesia)
Harga emas semakin tak berdaya akibat apresiasi dolar America Serikat (AS). (CNBC Indonesia)


KLIKMANADO.COM
- Emas semakin tidak berdaya akibat apresiasi dolar America Serikat (AS). Harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1,848.36 per troy ons atau melemah 0.19% pada Rabu (8/6/2022) pukul 15:43 WIB.

Kendati melemah hari ini, dalam sepekan harga emas masih menguat 0.15% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas melemah 0.3% sementara dalam setahun merosot 2.3%.

Pelemahan emas didorong oleh kenaikan dollar AS dan yield surat utang pemerintah AS. Baik dollr AS dan yield sama-sama naik karena besarnya ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pekan depan.

Baca Juga: Malaysia Hentikan Ekspor, Singapura Krisis Pasokan Daging Ayam

Kenaikan dolar AS membuat emas makin mahal sehingga kurang menarik. Sementara itu, meningkatnya yield surat utang pemerintah AS membuat emas tidak menarik karena emas tidak menawarkan imbal hasil.

Keyakinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga membuat investor memborong dollar AS dan memperbanyak portofolio di surat utang pemerintah AS sehingga Dollar Index dan yield meningkat tajam hari ini. Dollar Index ada di 102.66 pada sore hari ini, tertinggi sejak 20 Mei. Sementara itu, yield surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun menembus 3.01%.

Edward Meir, analis dari ED&F Man Capital Markets, mengatakan pergerakan emas akan sangat ditentukan oleh laju inflasi AS. Data inflasi sendiri akan diumumkan Jumat ini.

Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Harga Pangan dan Energi, Pemerintah Siapkan Kebijakan

"Emas sebenarnya relatif bergerak cukup baik dalam beberapa minggu ini. Jika inflasi lebih tinggi daripada perkiraan ada kemungkinan emas akan menguat tetapi jika inflasi melemah maka itu tidak baik untuk pergerakan emas," tutur Meir, seperti dikutip Reuters.

Emas merupakan aset relief di tengah lonjakan inflasi sehingga dicari investor saat inflasi melonjak dari perkiraan.

Halaman:

Editor: Yinthze Gunde

Sumber: CNBC Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Belanja di Thailand Kini Bisa Pakai Rupiah

Sabtu, 3 September 2022 | 17:42 WIB

Bappebti : 383 Aset Kripto Sah Diperdagangkan

Rabu, 17 Agustus 2022 | 19:13 WIB
X